Sabtu, 05 April 2014

Nyoblos Caleg ala Dukun Sarmadji

Din, setelah dua orang ibu-anak itu, aku mau istirahat." kata Dukun
Sarmadji dari dalam biliknya usai memberikan susuk pada seorang pasien.
Udin bergegas keluar menghampiri dua pasien berikutnya dan mempersilahkan
masuk ke ruang praktek Dukun Sarmadji. Dukun Sarmadji adalah dukun yang
terkenal di daerah Jawa Timur. Keahliannya sangat tersohor, dari pelet
sampai santet. Dari pengelaris sampai jabatan, dia tiada bandingannya.
Ruang praktiknya dipenuhi oleh benda-benda pusaka, dan segenap wewangian
kemenyan serta sesaji bagi iblis sesembahannya menambah keangkeran dukun
berusia 60 tahun dengan jambang lebat memenuhi wajahnya. Pasien berikutnya
adalah Nyonya Dieta dan diantar oleh puterinya Lisa. Nyonya Dieta adalah
wanita berumur 45 tahun yang sangat anggun. Dia sengaja datang ke Jawa
Timur selain untuk menghadiri resepsi karibnya kemarin, juga mengunjungi
Sang Dukun yang sakti mandraguna ini. Sengaja dia minta antar puterinya,
karena kesibukan suaminya sebagai pengusaha yang mengharuskan melakukan
perjalanan bisnis ke Eropa. Gaun malamnya menambah kecantikan yang tidak
pernah pudar dari wanita berparas cantik ini. Di sampingnya adalah puteri
sulungnya Lisa yang tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan
tinggi swasta di Jakarta. Menurun dari ibunya, Lisa yang masih 18 tahun
ini juga memiliki kecantikan yang tidak kalah dengan Sang Ibu. Gadis ini
tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam
yang lekat dengan pahanya yang masih ramping.
"Silahkan duduk Nyonya Dieta dan Dik Lisa…." kata Dukun Sarmadji
mempersilahkan dua pasien terakhirnya ini untuk duduk di karpet tepat di
depan meja praktiknya. Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali
berbinar. Amboi, cantik benar dua makhluk ini. Mulus, dada montok, dan
ah….ternyata tidak cuma mata sang dukun yang berbinar, penis Dukun
Sarmadji pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari
dua wanita cantik ini.
Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan kekagetan dengan kemampuan Sang
Dukun menebak nama-nama mereka. Dukun Sarmadji kembali berkata,

"Nyonya Dieta tidak usah kuatir. Nyonya pasti bisa jadi anggota dewan
tahun ini….Bukankah begitu yang nyonya inginkan?"
"Be..benar…Mbah Dukun. Darimana Mbah tahu maksud saya?" tanya Nyonya Dieta
makin kaget sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun. Nyonya
Dieta memang salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di
saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak,
membuat sang nyonya menjadi ketar-ketir.
"Hahahaha…iblis, setan dan jin mengetahui semua maksud di hati." kata
Dukun Sarmadji bangga. "Tapi, ini tidak gampang, Nyonya…."
"Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja akan saya lakukan untuk
itu Mbah." kata Nyonya Dieta tidak sabar.
"Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap sehingga tidak keluar.
Harus ada banyak pengorbanan, dan sesembahan agar itu semua keluar. Tapi
itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tidak perlu kuatir." Kali ini
Dukun Sarmadji mulai ngawur. Semua kalimatnya sengaja dirancang untuk
mendapatkan keuntungan dari dua wanita cantik ini. "Kamu dan puterimu
harus total mengikuti ritual yang akan saya siapkan. Sanggup?"

"Sanggup,Mbah"

"Dik Lisa sanggup membantu Mama?" tanya dukun yang sedang horny ini pada
puterinya.

"Sanggup,Mbah." Sahut Lisa demi sang mama tercintanya.

Mulailah Dukun Sarmadji komat-kamit sambil melempar kemenyan pada
pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi parau.

"Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah….Sebelumnya Nyonya minum air
dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin Timur Tengah." Dukun Sarmadji
menyodorkan kendi yang memang disiapkan khusus, dengan rerempahan yang
mengandung unsur perangsang yang sangat kuat.

Niat kotornya sudah mulai dijalankan. Di ruang sebelah ruang praktik utama
terdapat gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan sebuah dipan
kayu, serta meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Dukun
Sarmadji menyuruh Nyonya Dieta masuk mendekati gentong. Dan memberi
perintah agar Lisa melihat dari depan pintu ruangan.

"Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus
mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya….Mojopahit agung,
Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. " lanjut Sarmadji.
Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya
Dieta. Air kembang pun dalam sekejap membasahi baju Nyonya Dieta. Semakin
memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang masih ramping dan terjaga.

"Edan..ngaceng kontolku rek." batin Dukun Sarmadji. Tangannya yang satu
bergerak menggosok tubuh yang sudah basah itu. Dari rambut, dahi, hidung,
bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Dieta. Sempat
Nyonya Dieta terkaget dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi
buru-buru dia konsentrasi lagi dengan rapalannya.

"Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan sampai gagal, karena akan percuma
ritual kita…Sekarang lepas baju Nyonya biar reramuan kembang ini meresap
dalam kulit Nyonya." Perintah Dukun Sarmadji yang langsung dituruti oleh
Nyonya yang sudah ngebet jadi anggota dewan ini. Nyonya Dieta benar-benar
telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang masih
kencang.

Melihat mangsanya dalam kendali, Dukun Sarmadji semakin berani. Badannya
dirapatkan, agar penisnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang
montok. Jemarinya semakin nakal memainkan puting Nyonya Dieta. Terus turun
ke sela-sela paha Nyonya Dieta, memainkan vagina Sang Nyonya. Setelah 5
menit, tampak tubuh Nyonya Dieta bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan
perangsang sudah mulai bekerja. Dukun Sarmadji menuntun Nyonya Dieta ke
dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang
semakin tidak tertahankan. Perhitungannya, tak lama lagi, Sang Nyonya akan
tidak mampu berdiri karena melayang di antara alam sadar dan bawah
sadarnya.



Nyonya Dieta

Setelah membaringkan mangsanya, Dukun Sarmadji meneruskan rangsangannya.
Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Wewangian kembang
membuat nafsunya semakin tidak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya
menyerbu bibir vagina Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya
aja ditata. Wanginya juga beda, batin Dukun Sarmadji sesaat setelah
melihat vagina Nyonya Dieta. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat.
Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Sarmadji memutar-mutar
klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Dukun Sarmadji
tertancap lebih dalam.

"Eeeemmm…."Desah Nyonya Dieta penuh kenikmatan.

"Ini saatnya." Pikir Dukun Sarmadji membuka pakaian dan celananya dengan
buru-buru lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Dieta.

"Apa yang Mbah lakukan pada Mama?"Tiba-tiba semua perhatian Dukun Sarmadji
terbelah oleh pertanyaan Lisa. Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi.
Beda ama ibunya, Lisa tentu saja masih sangat sadar.

"Tenang cah ayu. Mamamu harus melakukan ritual tertinggi kharisma
asmaradana. Aku harus menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir
jahat pada Mamamu. Mamamu harus ditolong. Kamu mau pengorbanan Mamamu
tidak sia-sia bukan,Nduk?"

"Iya,Mbah."

"Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mama dengan rapalan
tadi…." perintah Dukun Sarmadji sambil mengembalikan konsentrasinya pada
penisnya yang sudah berdiri tegak. Urat-urat penisnya semakin membesar,
pertanda sudah sangat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala penis Dukun
Sarmadji yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu kini sudah berada di
bibir vagina Nyonya Dieta. Bibir vagina yang sudah basah karena cairan itu
merekah saat kepala penis Sang Dukun mulai membelah masuk. Dukun Sarmadji
mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus vagina Nyonya satu ini
ternyata cukup sulit. Diameter penisnya terlalu besar untuk vagina Nyonya
Dieta. Baru kepala penisnya yang mampu masuk.

"Aaaaah…seret juga milikmu,Dieta sayang. penis suamimu payah rupanya.
Tahan sedikit ya. Mbah akan beri kenikmatan hebat…" bisik Sarmadji pada
telinga Dieta. Di lingkarkannya tangan gempal Sang Dukun pada pantat
montok Nyonya Dieta. Dadanya bersandar pada dua payudara Dieta. Dan dengan
hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, penis Sarmadji melesak masuk.

"Eeeeemmmphmm,…mm..mm."Desah Dieta sambil merem melek.

Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membuat sensasi luar
biasa bagi Dieta. Sarmadji pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik
istri mudanya pun, milik Dieta masih lebih legit. Mungkin karena orang
kota pandai merawat diri, pikir Sarmadji sambil menikmati pijatan vagina
Dieta.

"Plok…plok…plok…plak…plak…plak.." suara perut Dukun Sarmadji bertemu kulit
putih Dieta. Sesekali Dukun Sarmadji menelan ludahnya sendiri melihat
batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk vagina Dieta yang putih
mulus. Kontras, menimbulkan sensasi yang luar biasa.

"Ooooh…Mbah." Dieta mengeluh panjang.

Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda wanita molek ini rupanya, batin
Sarmadji. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis
Sarmadji. Sarmadji mengejamkan matanya menikmati sensasi hebat ini. Ia
sengaja membiarkan Dieta menggelinjang dalam orgasmenya.

"Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tidak
ada yang bisa tahan…"Bisik Dukun Sarmadji sambil tersenyum setelah melihat
orgasme Dieta sudah reda. Sarmadji mulai mempercepat genjotannya. Naik
turun tanpa lelah. Pantat Dieta pun mengikuti irama genjotan Dukun
Sarmadji. Sesekali sengaja dia tarik penisnya hingga hanya menyisakan
kepalanya. Membuat pantat Nyonya Dieta terangkat seakan tidak rela barang
besar itu keluar dari vaginanya.

Dukun Sarmadji menarik tubuh Dieta hingga mengubah posisi menjadi duduk.
Sambil memeluk pinggul Dieta, Sarmadji meneruskan sodokannya. Dieta pun
mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Dieta membuat
penis dukun tua itu seperti diremas-remas. Karena hasratnya yang sudah
memuncak. Nyonya Dieta mendorong Sarmadji rebah. Dan kini Nyonya anggun
itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai
berkibar-kibar. Peluhnya membuat kulit putihnya seakan mengkilap.

"Hong Silawe,…uuuggh…mmm..mmmph…Hong Silawe…aaaaahhh…" Dalam gerakan
liarnya pun Dieta tidak lupa membaca manteranya.

Dukun Sarmadji tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu
erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Dieta yang terayun turun naik.
Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi
kesempatan bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu. Nyonya Dieta
mengerang dengan hebatnya. Sebuah percumbuan yang hebat ini mungkin baru
kali ini dia alami seumur hidupnya.

"Ooooohh….ooohh…uuuggh.Hong….aaaaah…Silawe..Ratu…jagaaaad…aaaah" Dieta
semakin meracau tak karuan. Tubuhnya mulai tak kuasa kembali menahan
kent*tan dahsyat ini. Dieta terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun.
Pantatnya mengayun dengan irama yang semakin kacau. Dan, kedua tangannya
memegang rambut panjangnya.

"Bagus, sayang…terus rapal.rapal…aaah…rapal..kita sampai bareng,
Dietaku….hhhhmmpphh.."Dukun Sarmadji pun merasakan penisnya mulai berkedut.

Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Dieta. Dukun Sarmadji membantu
mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Dukun Sarmadji mulai menegang. Dan
sambil bangkit mendekap Nyonya Dieta, Dukun Sarmadji mengeluh keras,

"Aaaaaaaaagghhh…ghh…Dieta…"

"aaaaagggh….mmmmph…mmmp…aaaaah."Nyonya Dieta pun menyambut pelukan Sang
Dukun.

Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Dieta
mendapat orgasme hebat di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun
ini pun ambruk didekapan Sarmadji yang masih merem melek menikmati sisa
orgasmenya dari caleg cantik ini. Dua-tiga menit ia memeluk Dieta,
membiarkan penisnya menikmati hangatnya liang peranakan Dieta. Setelah
menidurkan Nyonya Dieta yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan
penisnya dari vagina Nyonya Dieta. Ia bangkit dari dipan dan menghampiri
Lisa yang mandi keringat menyaksikan mamanya disetubuhi dengan hebat tadi.
Kaos ketat Lisa yang basah keringat menampakan kemolekan gadis yang baru
merekah ini.



Lisa

"Hong Silawe…Silawe…mamamu sudah melakukan ritual paling beratnya, Cah
Ayu. Biarkan dia istirahat dulu." kata Dukun Sarmadji sambil menggamit
tangan Lisa yang masih terpaku dengan apa yang baru dia lihat tadi.

Dukun Sarmadji menuju karpet besar di area meja praktiknya. Ia kemudian
meneguk air teh dalam gelas seng yang besar di mejanya. Dipandanginya Lisa
yang duduk di karpet. Benar-benar sangat cantik daun muda ini. Rambutnya
yang dipotong pendek dengan tubuh yang langsing dan padat, memperlihatkan
energi muda dari gadis yang sporty ini. Dengan masih telanjang, Dukun
Sarmadji mendekati Lisa yang duduk memandangnya. Batang penisnya mulai
menegang lagi, ingin merasakan nikmatnya vagina belia ini.

"Lisa, dengarkan aku. Tinggal selangkah lagi. Dan semua ritual ini
bergantung kamu sebagai puterinya. Kamu ikuti saja perintahku. Kita
tuntaskan ritual agung ini.Siaap?"

"I…i…ya..Iya Mbah…" Lisa menjawab, gadis ini agak tergagap karena
pandangannya yang terfokus pada penis Mbah Dukun yang kembali perkasa.
Kilatan bekas cairan vagina mamanya masih nampak dari batang penis Dukun
Sarmadji.

"Hong Silawe…Silawe…kemari Nduk. Hisap kontol ini dengan mulutmu. Lakukan
dengan benar ya Cah Ayu." perintah Dukun Sarmadji sambil menyodorkan
penisnya di depan mulut mungil Lisa yang masih duduk bengong di karpet
tebal ruang praktiknya.

Lisa masih terdiam terpaku. Dadanya naik turun, dengan nafas masih
memburu. Terasa vaginanya basah karena cairan. Ada perasaan aneh
menyaksikan pergumulan Mama yang begitu dicintainya dengan lelaki tua itu.
Pergumulan itu begitu membuat rasa keingintahuannya muncul, meskipun rasa
takut begitu dominan saat ini. Pengalaman pertama yang justru
didapatkannya dari mama dan lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya
itu.

"Nduk, ayo, keburu roh gaib yang mau membuka tirai penghalang cita-cita
mamamu pergi.." kata Dukun Samardji mendekat. Penisnya yang berdiri begitu
tegak dengan urat-urat besar dan warna hitam pekat, terlihat begitu
menakutkan bagi sang dara. Bandot tua ini sudah tidak tahan untuk
mencicipi tubuh anak kota yang begitu terawat. Begitu putih seperti
mamanya. Begitu langsing dan terawat.

"Lisa takut Mbah…" desah Lisa perlahan, sambil kedua telapak tangannya
saling meremas.

Dukun Sarmadji menghela nafasnya. Dia mengelus rambut hitam mangsanya
dengan senyum manis.

"Tidak usah takut Cah Ayu. Semua tidak menyakitkan. Kamu harus
melakukannya sebelum pengorbanan mamamu dan Mbah percuma. Kamu sayang
mamamu, bukan?" Sang Dukun pun menebar jebakan mautnya membuat Lisa tidak
memiliki pilihan kecuali menganggukkan kepala.

Dan dengan sigap, Dukun Sarmadji mendekatkan penisnya di depan bibir
mungil itu. "Jangan sampai kena gigi ya Cah Ayu. Kulum, sedot dan pakai
lidahmu…begitu ritualnya."

Masih dengan ragu-ragu Lisa memegang penis yang hingga begitu besarnya
tidak cukup dalam genggamannya. Dukun Sarmadji segera mendorong kepala
Lisa maju mundur.

"Hong Silawe…Silawe…setan belang, jangkrik monyong….terus Nduk." kata
Sarmadji keenakan. Lisa terus mengulum batang penis Sarmadji. Setiap
sedotan membuat lelaki bejat itu merem melek. Terkadang, saking tidak
sabarnya Sarmadji mendorong terlalu keras hingga separoh batangnya
menyodok masuk ke dalam tenggorokan Lisa. Air liur Lisa membasahi hangat
penisnya, menggantikan sisa-sisa cairan kemaluan mamanya sendiri.

"Hoooo oooh…bener gitu caranya Cah Ayu…" Sarmadji makin kelojotan, batang
penisnya semakin membesar sehingga nyaris membuat Lisa kesulitan bernapas
tiap kali dukun cabul itu memaksa batangnya memenuhi mulutnya. Tangan
Sarmadji meremas-remas rambut pendek Lisa.

"Ah, beruntungnya aku. Anak ini cantiiiiik banget. Mirip artis sinetron
Agnes Monica. Mungil, namun seksi," pikir Sarmadji.

"Sekarang jilati kantong bola kontol Mbah sayang….di situ tempat semua
pengasih untuk membuka tirai penghalang Mama…" lanjut Sarmadji. Dan Lisa
pun menurut. Dua buah zakar Sarmadji dikulumnya bergantian. Membuatnya
tidak kuasa menahan semua kenikmatan ini. Dia pun menjadi semakin
bergairah dan bernafsunya.

"Sekarang giliran Mbah…." tanpa ba-bi-bu karena diselimuti nafsunya.
Tangan-tangan dan lidah Sarmadji berebutan menjamah tubuh gadis cantik
yang baru tumbuh-tumbuhnya ini.

"Mbah, Lisa malu…" Ketika dua tangan Mbah Sarmadji berusaha melucuti kaos
ketatnya. Tangan-tangan mungil Lisa berusaha menahannya. Namun, Sarmadji
tidak peduli lagi. Diserangnya ketiak kiri-kanan sang gadis sambil menarik
kaosnya. Breeet….terlihatlah dada putih mulus dengan dua gundukan yang
indah bentuknya masih dalam perlindungan BH hitam berendanya. Tidak
sebesar mamanya memang, tapi bentuknya begitu paripurna, pikir Sarmadji.
Belum pernah dijamah laki-laki. Masih bentuk alami yang mengundang
tangan-tangan kasarnya meremas dengan gemas.

"Demi mamamu sayang….demi mamamu." Sarmadji membaringkan tubuh Lisa yang
didera kebingungan dan rasa nikmat yang pertama kali dia rasakan itu ke
karpet. Ciuman dukun tua itu memborbardir bibir mungil Lisa, dan seluruh
bagian lehernya. Dan dua tangannya yang lebih kuat menarik lepas BH itu
dari dua payudara yang ingin disentuhnya langsung. Kulit ketemu kulit.
Sarmadji berhenti sejenak. Pemandangan yang luar biasa membuatnya
tertegun. Bahkan ketika malam pertamanya saat mengambil kegadisan isteri
pertamanya, tidak pernah dia menemukan sensasi sehebat ini.

"Hong Silawe…Silawe. Kamu cantik sekali Nduk. Dua payudaramu ini harus
disedot untuk mengeluarkan hawa penolong mamamu…." Seperti tak sabar,
bibir tebal Sarmadji pun menyerbu dua puting payudara Lisa bergantian.
Tangannya pun bergantian meremasnya. Kadang gerakan halus melingkar searah
jarum jam di sekitar puting, kadang remasan terhadap semua bagian payudara
Sarmadji.

"Aaaahh…Mbah." Lisa mulai terhayut dalam permainan Mbah Sarmadji yang
begitu membuat dirinya melambung. Dua putingnya sudah mancung karena
rangsangan hebat Sang Dukun yang kaya pengalaman ini.

Setelah hampir 30 menit dicumbu. Tubuh Lisa menggeliat namun dengan kaki
masih terkatup. Sang Mbah pun menggelar serangan kilat tahap berikutnya.
Salah satu tangannya mulai mengarah ke selangkangan Lisa. Dibelainya
selangkangan gadis itu dari luar. Mulut dan tangan Sarmadji mulai bergeser
posisi turun, ke perut dengan dua tangannya masih bergantian memutar-mutar
puting Lisa. Lisa pun makin menggelinjang. vaginanya pun semakin basah.

"Mbah, sudah jangan Mbah…"Lisa tiba-tiba tercekat dalam sadarnya.
Tangannya memegang dua tangan Sarmadji yang sudah berhasil membuka kancing
dan resliting celana jeans yang membungkus bagian bawah tubuhnya. Sial,
hebat juga kesadaran bocah ini, pikir Sarmadji. Rupanya penaklukannya
menjadi tidak mudah sekarang.

"Kamu mengacaukan semuanya!!!!" bentak Sarmadji dengan membuat mimik wajah
paling angkernya. "Roh marah dan pengorbanan mamamu sia-sia malam
ini…Sudahlah, lenyap mimpi mamamu!!!"

Lisa yang terduduk sambil meringkuk pada dua pahanya tertegun melihat
akting top markotop sang dukun. Perasaan bersalahnya mulai muncul.
Diliriknya tubuh mamanya di dipan yang masih mandi peluh karena percintaan
hebatnya tadi.

"Ah, mama sudah berjuang keras, dan tak pantas aku menghancurkannya,"
batin Lisa.

Melihat lawannya bingung, Sarmadji pun semakin memasang akting cuek dan
marah. Dan ia membalikkan badannya menuju meja persembahannya. Lisa pun
terlihat mulai panik.

"Maaf,Mbah. Lisa cuma takut. Nggak pernah Lisa seperti ini…."Lisa pun
menubruk tubuh Mbah Sarmadji dari belakang. Tak sengaja dua tangan mungil
itu bersentuhan dengan penis Mbah yang sudah lapar ini. Sarmadji pun
tersenyum…..

"Masih bisa diatur asal Lisa benar-benar siap dalam upacara ini. Sekarang
Mbah bersila di sini. Lisa berdiri tiga kaki dari posisi Mbah. Lakukan
perintah Mbah…." kata Mbah Sarmadji dengan nada tinggi. Lisa menurut.

"Apa perintah Mbah…?"Tanya Lisa setelah berada di jarak yang diinginkan
Sarmadji.

"Kamu bisa menari Nduk? Liukkan tubuhmu, menarilah untuk menggoda sang roh
gaib datang lagi…..yak, terus raba badan neng sendiri. Yah, begitu….mulai
lepas celana jeans itu!" Sarmadji menikmati ABG cantik ini menari begitu
erotisnya, meliukkan pinggulnya yang ramping, dengan dua payudara yang
bergantung bebas naik turun mengikuti gerakan Lisa.

"Rebahkan tubuhmu di karpet itu,Nduk…" kata Sarmadji lirih sambil menahan
nafsunya yang sudah melambung.

Tubuh seksi Lisa yang mengkilap basah oleh keringat dan air liur Sarmadji
rebah tidak jauh dari Sarmadji. Lelaki tua ini pun merangkak menghampiri
ibu jari kaki Lisa. Dengan lembut dikulumnya jari-jari kaki Lisa, terus
bibirnya menelusuri betis, dan terus menaiki paha sang dara jelita ini.

"Uuuuugh…"Terdengar desisan tertahan dari Lisa. Sarmadji tidak
menyia-nyiakan keadaan. Lidahnya pun menyodok-nyodok vagina Lisa yang
terlindung dibalik CD hitam berenda itu. Lisa semakin kelojotan. Dan
dengan cepat, tangan Sarmadji menarik turun CD Lisa dan melemparnya ke
karpet.

"Jangan takut Nduk. Semua akan lancar" bisik Sarmadji ketika Lisa
menunjukkan keraguan. Selanjutnya, lidah Sarmadji menyibak rambut vagina
Lisa yang tertata rapi ini. Menerobos masuk, menjilati klitoris Lisa. Lisa
benar-benar melayang menikmati permainan lidah yang dahsyat dari Sang
Dukun. Melihat Lisa mulai menggelinjang, Sarmadji terus melanjutkan
serangannya. Lidah Sarmadji menusuk-nusuk liang vagina Lisa yang semakin
banjir itu. Tanpa bisa mengontrol dirinya, tanpa terasa tangan Lisa sudah
menjambak rambut panjang sang dukun. Dan semakin dekat dengan kenikmatan,
semakin keras tangan Lisa menarik rambut Sarmadji.

"Aaaaaahh…hhh..Mbah.." lenguh Lisa.

Tubuhnya bergetar. Perasaan yang luar biasa.

Dia mengalami orgasme pertamanya dalam hidupnya sebagai wanita. Sarmadji
tersenyum. Dia membiarkan sekian detik Lisa menggelepar dalam kenikmatan.
Sarmadji pun merangkak mendekati bibir Lisa, dan menciumnya lembut.

"Sekarang saatnya upacara utama,Nduk. Kamu siap?"

Mangsanya terdiam, masih dalam kenikmatan luar biasa yang tidak pernah
dirasakannya. Sarmadji pun mengarahkan kepala penisnya yang mirip jamur
besar itu di bibir vagina Lisa. Lisa melenguh saat bibir vaginanya membuka
perlahan, saat penis raksasa itu mulai menembus vaginanya.

"Lisa takut,Mbah…" desis Lisa melihat penis besar yang terasa tidak
mungkin bisa masuk ke dalam lubang vaginanya itu.

"Sabar Cah Ayu. Sakit cuma di awal. Pengorbanan untuk mamamu…"Sarmadji
begitu lihai memainkan perasaan sang dara ini. Dia pun mempersiapkan
pergerakan penisnya. Perlahan kepala penis Sarmadji mulai masuk.

"Aaaah…sakiiiiittt…ttt..tt..,Mbah." teriak Lisa. Sarmadji sudah tidak
begitu menggubrisnya. Dia dan senjata pamungkasnya sudah begitu sibuk
menikmati sensasi menembus keperawanan gadis seksi ini. penis Sarmadji pun
terus bergerak pelan namun pasti diiringi rintihan kesakitan Lisa.

"Sabar,sayang…..Heeeeeehhh…hhhh…"Mbah Sarmadji pun menghentakkan
pinggulnya dengan kekuatan penuh.

"Aaaaaahhh…..Mbah…Sakiiiit."

Bleeeeessss…seluruh batang penis Sarmadji yang besar itu tenggelam dalam
vagina Lisa yang begitu terasa sangat sempit. Air mata Lisa mengalir di
sela dua matanya merasakan perih selaput daranya dirobek benda besar yang
tidak pernah dibayangkan bisa berada dalam liang vaginannya. Setelah
sejenak membiarkan vagina Lisa beradaptasi, Mbah Sarmadji mulai
menggoyangkan pantatnya naik turun. Tampak batang besar penis Sarmadji
keluar masuk dengan kokohnya. Cairan vagina bercampur darah perawan Lisa.
Rapatnya vagina Lisa membuat Dukun sableng ini merem melek menikmati semua
kenikmatan yang mungkin sebelumnya hanya bisa didapatkan dalam mimpi. Lisa
kelojotan menerima hantaman penis Sarmadji yang terus menerjang tanpa
ampun seolah ingin membongkar rapatnya vagina perawan Lisa. Peluh
membasahi dua insan yang berjauhan usia itu.

"Uuuuugh…hh..eeeemph."Lisa melenguh ketika Mbah Sarmadji menarik tubuhnya
dalam posisi duduk. Seperti insting alamiah, tubuh Lisa seakan paham untuk
mengambil peran dalam pergumulan posisi ini. Pantat Lisa naik turun,
pinggulnya meliuk memperkuat remasan vagina Lisa terhadap batang penis
Sarmadji. Sarmadji pun menyambut dari bawah dengan sodokan terhebat
penisnya.

"Hong Silawe..Silawe…weee…wwweee…wenaaaakkk,Nduk." Sarmadji meracau penuh
kenikmatan. 10 menit dalam deru nafas Lisa semakin ga karuan. Tangannya
memeluk Sarmadji.

"Aaaaahhh…hhh…..hhh..Mbaaaaah.." Lisa orgasme untuk kedua kalinya.
Sarmadji menyambut pelukan Lisa dengan lembut. Mengurangi daya sodokan
untuk memberikan kesempatan gadis ini menikmati pengalaman orgasme
keduanya yang indah, Sarmadji memberi kecupan hangat di bibir gadis
cantiknya.

"Gimana,Nduk? Siiiiiiap dengan ritual kenikmatan berikutnya sayang?" bisik
Sarmadji diiringi anggukan lemah Lisa. Dengan sigap Sarmadji menidurkan
tubuh Lisa dengan tetap memegang pinggul gadis cantik itu dengan dua
tangannya yang kuat. Lalu ia mengangkat dua kaki Lisa dan meletakkannya ke
pundaknya dengan posisi penis masih di dalam liang Lisa.

"Eeeeemmphh…phh..aaahh…" Lisa mendesah ketika dalam posisi barunya Mbah
Sarmadji mempercepat genjotannya. Semakin cepat batang Sarmadji keluar
masuk, diiringi naik turunnya payudara Lisa. Cairan vagina Lisa semakin
memberi pelumas bagi rudal raksasa ini untuk mengaduk-aduknya,
memaksimalkan kenimatan dua insan itu.

"Aaaaaah…enak sekali vaginamu Cah Ayu." bisik Sarmadji sambil meraih
puting Lisa dengan bibirnya di sela genjotan itu.

Hampir 30 menit Sarmadji tanpa kenal lelah terus menyetubuhi gadis cantik
itu. Peluhnya bahkan menetes jatuh di perut langsing Lisa, bercampur
dengan keringat sang gadis. Kulit Lisa terlihat semakin mengkilap karena
peluh yang membasahi semua bagian tubuhnya. Nafas keduanya saling
bersahutan dengan sesekali diiringi erangan penuh kenikmatan.

Hingga entah sodokan yang ke berapa ratus kali, tubuh Lisa kembali mulai
menunjukkan tanda-tanda orgasme bakal kembali melanda.

"Eeeeergghh..aaaaahh…Mbah…Lisa ga tahan lagi." desah Lisa sambil
mencengkram karpet dengan kuku-kuku tangannya.

"Saaaabaar, sayang….aaaahh..aahh..Mbah juga mau sampai." Sarmadji
mempercepat genjotannya. Urat-urat penisnya berkedut tak mampu
dibendungnya.

Dengan semua kekuatannya yang tersisa, dihentakkannya penisnya dalam-dalam
hingga mentok ke dasar rahim Lisa. Diiringi teriakan orgasme yang dahsyat,

"Aaaaaahhhhh……aaaahhh….Lisa….Silawe…Aaahhh..Hoong…Lisaaaa…."

Lisa pun mengejang hebat, cairan vaginanya muncrat bertumbukan dengan
tumpahan sperma Dukun Sarmadji yang sepertinya memenuhi liang
kenikmatannya. Tubuh Sarmadji roboh di atas pelukan Lisa. Lemas, puas, dan
nikmat. Sarmadji pelan-pelan mencabut penisnya dari vagina Lisa. Senyuman
kemenangannya tersungging di pipinya saat melihat sisa-sisa spermanya
menetes keluar dari vagina gadis cantik itu, berbaur dengan cairan vagina
dan darah perawan.

"Mandilah, di kamar mandi itu. Upacara kita sukses Nduk. Mamamu akan
mendapatkan semua yang diinginkannya." kata Sarmadji sambil melemparkan
kaos dan jeans pada Lisa yang masih terlentang di karpet. Gadis ini masih
tak percaya dengan apa yang dialaminya. Dipungutnya pakaiannya, dan dengan
langkah kaki yang masih lemas dia masuk ke bilik kamar mandi di mana sang
mama masih lelap dalam kebugilannya.

"Gua juga dah dapat yang gua inginkan. Nyoblos memang nikmat, daripada
nyoblos di TPS mending nyoblos langsung calegnya hehehe!" kata Sarmadji
dalam hatinya sambil ketawa kecil.

--
Using Opera's mail client: http://www.opera.com/mail/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar